Nabi Adampun backpackeran di Indonesia
Selama setahun ini mengunjungi beberapa tempat di Indonesia. Saya makin menyadari, bahwa negeri ini dulunya adalah “surga dunia” dimana tempat Adam diturunkan. Begitulah, saya mendengar berita itu dari orang Maiyah, bahkan dengan detail mereka mengatakan Papua lah tempat Adam diturunkan pertama kali. Salah satu pulau besar Indonesia...
DHAENG SEKARA ( Telik Sandi Tanah Pelik Majapahit ...
Dhaeng Sekara yang terlahir dengan nama Mahesa Sekar seorang anak muda usia 19 tahun. Seorang Ksatria sejati yang diutus Bhre Tumapel, Dyah Kertawijaya, untuk memata – matai sejumlah wilayah yang tengah dilanda konflik dan membahayakan keberadaaan Kerajaan Majapahit setelah kepergian Rakryan Patih Mangkubhumi Pu Gajah Mada. Hidup di...
Akhirnya, Kyai Kanjeng Lebih Dekat.
Kyai kanjeng, sholawatan dengan kepungan gedung – gedung baru ITS. Acara Sholawatan ini digelar untuk memperingati Dies Natalis ITS. Di depan para penikmat Kyai Kanjeng, Sholawatan dibawakan dengan cara tak biasa., khas Kyai Kanjeng. Sholawat Mulai menggema, sejenak menentramkan rasa jenuh akan rutinitas sehari hari. Bagi orang...
Nabi Adampun backpackeran di Indonesia
Selama setahun ini mengunjungi beberapa tempat di Indonesia. Saya makin menyadari, bahwa negeri ini dulunya adalah “surga dunia” dimana tempat Adam diturunkan. Begitulah, saya mendengar berita itu dari orang Maiyah, bahkan dengan detail mereka mengatakan Papua lah tempat Adam diturunkan pertama kali. Salah satu pulau besar Indonesia yang kekayaannya bisa membeli seluruh daratan Eropa.
Dulu cerita dari orang tua, Adam ( jangan lupa tambahkan Nabi ) ketika diturunkan ke Ibu Pertiwi, Sang Ibu Bumi. Beliau langsung berwujud secara fisik dan bersifat materi. Akibat melanggar warning Yang Maha Suci. Menikmati buah khuldi, sebuah simbol kenikmatan duniawi. Maka pantaslah, kemudian beliau diturunkan ke dunia sesuai dengan niat awal penciptaanya, Khalifatul Fil ard ( semoga saya tidak salah tulis istilah arab ini^^ ).
Setelah terpisah dari Hawa, ber traveling rialah Adam mencari kekasih hatinya. Misalnya, kalo boleh mewakili perasaan Adam pada waktu itu. Tentu pencarian itu tidak terlalu membosankan, karena negeri ini, tempat beliau membumi pertama kali adalah turunan surga, tiada duanya di dunia lain. Terlalu indah untuk ditinggalkan.
Ibaratnya kata Cak Nun “Surga pernah bocor dan bocorannya itulah Indonesia” ah tapi dalam cerita ini kan dia harus mencari Hawa ke sebuah negeri bukan untuk tinggal di bocoran surga.
Indonesia, sungainya yang mengalirkan air yang jernih dari pegunungan, laut yang biru nan aduhai, pantai yang eksotis, aneka tumbuhan mendiami hutan rimbanya. Disini juga kau bisa minikmati gugusan pulau – pulau yang indah, orang barat menyebutnya Archepilago. Kalau kau melihat pulau – pulau kecil di Lombok atau Karimun Jawa, rasa – rasanya ingin tinggal disitu sampai malaikat maut menjemput.
Singkatnya, Tuhan masih baik hati, hanya “mengusir” ( jika masih boleh disebut begitu ) Adam ke negeri ini, tidak di negeri lain yang kering kerontang, gersang, sudah sandang pangan. Tanpa variasi tumbuhan dan hewan yang beraneka ragam bentuk dan gunanya bagi kehidupan manusia yang beradab.
![]()
Dengan iklimnnya yang tropis, negeri ini sangat indah sekali dan nyaman untuk ditinggali. Memang saya belum pernah sekalipun ke luar negeri dan tidak bisa membandingkan hidup di negera lain. Bagi saya yang hidup di tanah Jawa, keinginan saya masih sebatas ingin mengeliling tempat – tempat di Indonesia dan saya yakin, haqqul yakin bahkan, kalau Di Indonesia tidak ada tempat yang tidak indah, semuanya mengagumkan.
Selama ini, di era modern, keindahan itu sementara bisa dirasakan dengan menyaksikan langsung melalui televisi, membaca majalah, atau buku – buku tentang traveling yang saat ini makin banyak beredar. Percayalah, semakin saya sering jalan – jalan, rasanya itu seperti candu, membikin ketagihan. Hampir setiap bulan saya membawa tas dan sandal Eiger kesayangan saya untuk menyebrang ke pulau lain.
Kembali ke Adam, rasanya terlau dramatis kalo beliau dalam masa pencarian Hawa tepatnya. Digambarkan penuh kesedihan dan kesepian di tengah alam Indonesia yang memiliki daya magnet ini, menarik siapapun tanpa batas. Bisa jadi ketika pertama kali bertemu Hawa di Jabbal Rahma ( Bukit Kasih Sayang, God Damn )
Read MoreAdam berkata, “Have You Ever Visit Indonesia ? There are a lot of beautiful view in Indonesia”
Semoga dengan kehendaknya cerita ini masih bisa disambung
DHAENG SEKARA ( Telik Sandi Tanah Pelik Majapahit )
Dhaeng Sekara yang terlahir dengan nama Mahesa Sekar seorang anak muda usia 19 tahun. Seorang Ksatria sejati yang diutus Bhre Tumapel, Dyah Kertawijaya, untuk memata – matai sejumlah wilayah yang tengah dilanda konflik dan membahayakan keberadaaan Kerajaan Majapahit setelah kepergian Rakryan Patih Mangkubhumi Pu Gajah Mada.
Hidup di zaman Majapahit dengan rajanya Sri Baginda Maharaja Wikramawardhhana. Dhaeng Sekara, seorang sebatang kara yang diasuh oleh Kakek Bantal Guru Spiritualnya, salah seorang pahlawan Perang Salib, yang sudah dianggap orang tuanya sendiri. Seluruh keluarganya, kecuali Ayahnya, dibinasakan oleh kumpulan perompak. Akibat peristiwa itu, dia selalu dihantui rasa penasaran akan kematian keluarganya dan pencarian akan keberadaan ayahnya yang menghilang setelah peristiwa itu.
Pencarian akan keberadaan ayahnya perlahan – lahan mulai terungkap, ketika dia ditugaskan oleh Dyah Kertawijaya ke daerah Gowa, yang juga dibawah kerajaan Majapahit. Dalam menjalankan tugas dari Dyah Kertawijaya. Dalam menjalankan tugasnya, Dhaeng Sekara terkena racun mematikan, yg dikenal dengan racun “seribu mayat” oleh seorang wanita yang menguasai ilmu hitam tingkat tinggi. Untuk menyembuhkan racun yang sudah menjalar ke suluruh tubuhnya maka dinikahkan lah Dhaeng Sekara dengan gadis setempat.
Menariknya pernikahan itu dilakukan dalam keadaan Dhaeng Sekara tidak sadar,akibat pengaruh racun ganas. Dia baru menyadari telah menikah ketika istrinya yang menyuapinya bubur mengatakan bahwa mereka telah menikah. Dengan melakukan perkawinan itulah, salah satu jalan untuk mengeluarkan racun yang sudah menjalar ke seluruh tubuh. Begitulah penjelasan tabib setempat yang mengobati Dhaeng Sekara.
Berat dan padatnya tugas yang diemban Dhaeng Sekar mengakibatkan dia tidak bisa menemani istrinya yang baru dinikahinya. Seketika kesehatanya mulai pulih, Dhaeng Sekar meninggalkan istrinya dengan meninggalkan Badik, peninggalan ayahnya sebagai pusaka. Dari badik itulah ternyata misteri keberadaan Ayahnya dan pembunuh keluarganya mulai terungkap.
Ternyata istri Dhaeng Sekar, I Da Sarebba berayahkan I La Pitureppa, bekas anak buah Ayahnya, tentu saja mengenali pemilik badik tersebut. Ternyata ayah Dhaeng Sekar adalah pimpinan Bala – awajuh Wilwatikta, Kerajaan Majapahit, dengan nama Panji Sekara. Setelah mengetahui latar belakang ayahnya sesuai dengan nasehat kakek Bantal, Dhaeng Sekara menghadap Sri Baginda Majapahit, Sri Prabu Wikramawarddhana untuk mendapatkan penjelasan perihal keberadaan ayahandanya.
Dalam tradisi Majapahit ada tradisi yang dinamakan pepe, dalam rangka menghadap raja untuk menyampaikan protes, kritik, maupun keluh kesah. Menghadaplah telik sandi Tanah Pelik Majapahit itu, dengan menyerahkan taji kecil peninggalan ayahnya. Sri Prabu Wikramawarddhana meraih taji kecil yang dihaturkan Dhaeng Sekara. Ternyata diluar dugaan beliu mengenali pemiliknya, yaitu Sang Gendhigmanggala Rakryan Panji Sekara. Taji kecil itu adalah hadiah yang beliau berikan pada hari pernikahan ayah dan ibu Dhaeng Sekara.
Sri Prabu Wikramawarddhana bertanya kepada Dhaeng Sekara, apa masih ingat sama sekali dengan peristiwa pembinasaan keluarganya oleh perompak tersebut. Dhaeng sekara hanya ingat ciri – ciri pimpinan perompak. Pada lengan kirinya terdapat gambar rajah kepala harimau, selain itu dia menyelipkan gading dengan ukiran kepala harimau. Dan yang paling diingatnya dan tidak bisa dilupakan adalah perut bagian kiri terdapat tahi lalat besar, yang ditumbuhi rambut.
Dengan izin Sri Baginda Maharaja akhirnya Dhaeng Sekara dapat menemui ayahnya dan menceritakan ciri – ciri perompak yang telah membinasakan keluarganya. Ternyata ayahnya mengenali ciri – ciri tersebut. Tak lain dan tak bukan, pemilik ciri – ciri tersebut ternyata, sahabatnya yang paling dipercaya.
Penulis : Agus Sunyoto
Penerbit : Diva Press
Halaman : 487
Terbit Oktober 2010
Akhirnya, Kyai Kanjeng Lebih Dekat.
Kyai kanjeng, sholawatan dengan kepungan gedung – gedung baru ITS. Acara Sholawatan ini digelar untuk memperingati Dies Natalis ITS. Di depan para penikmat Kyai Kanjeng, Sholawatan dibawakan dengan cara tak biasa., khas Kyai Kanjeng. Sholawat Mulai menggema, sejenak menentramkan rasa jenuh akan rutinitas sehari hari. Bagi orang yang kesibukanya menjadi salah satu costumer servis salah satu perusahaan hosting Indonesia, terlebih sekarang www.jagoanhosting.com sudah masuk The Big Five perusahaan hosting Indonesia. Menikmati acara seperti ini adalah kesempatan langka, karena mendapatkan waktu senggang melayani pelanggan, yang layaknya raja, tentu bukan hal yang mudah.
Diri ini mengagumi semua grup yang dipimpin oleh Kyai mbeling, Cak Nun. Mungkin kekaguman saya bisa disejajarkan, seperti Andrea Hirata yang mengidolakan Rhoma Irama, Raja Dangdut Indonesia atau seperti Sukarno yang mengagumi Ratna sari dewi. Istri cantiknya yang paling dicintai itu
Tidak alasan tertentu untuk mengagumi grup musik, dengan Nuansa tradisional dikombinasikan dengan alat musik modern ini . Bukan keahlianku untuk menilai musiknya berkualitas atau tidak. Dari video di youtube terlihat begitu banyak hal tak biasa dalam setiap mereka tampil, dari musiknya, dari cara kajian – kajiannya, cara berpakain, mereka tidak sekedar bermain musik , mereka sedang berkampanye tentang keindahan dan keberagaman Indonesia, “we love Indonesia”
Jika memang terpaksa untuk membuat alasan untu menyukainya, mencintainya, memujanya dan merindukanya maka alasan itu mulai muncul malam itu, di Kampus ITS. Aku jatuh pada salah satu vokalisnya, Novia Kolopaking. Cantik yang bukan buatan, inilah aktualisasi dari perhiasan dunia, tak ternilai harganya. Seperti yang sering disebut dalam doa “Qurrata A’yun” menyejukkan mata. Hingga makin sulitlah, melupakan ketenaran bintang Siti Nurbaya dan Keluarga Cemara ini, dalam sinetron masa lalu, ketika sinetron masih berkualitas tuntunan bukan tontonan, tiada habisnya dari episode satu ke episode lain, selama ada iklan dan pemirsa belum bosan, maka dipastikan sinetron akan terus diproduksi.
Dalam keistimewaan itu, kabar buruknya beliau telah menjadi istri sang pemimpin Kyai Kanjeng, Kenduri Cinta, Maiyah, Padang Bulan, beliualah Cak Nun, Emha Ainun Nadjib ( semoga Allah merahmati beliau dan keluarga ). Jika pintu kompetisi untuk mendapatkan “Siti Nurbaya” kembali terbuka. Kalaupun parameter ketampanan itu adalah wajah, maka bolehlah diri ini merasa unggul tipis.
Dan jangan tanya kalau parameternya adalah keilmuan, ide revolusioner, semangat persatuan, melestarikan budaya bangsa. Maka kali ini aku mengaku kalah, tapi ingat cak, masih ada hari esok, kompetisi belum berhenti selama dunia masih berputar dan langit masih menggantung di angkasa. Peluangku masih tetap ada
Cak nun, novia kolopaking dan Kyai kanjengnya bukan grup musik biasa, bukan grup musik komersil yang menciptakan lagu demi keuntungan ekonomis. Inilah grup musik, yang mengingatkan saya pada Qawalli kalau boleh saya katakan begitu, penuh dengan pesan – pesan moral, sosial, perdamaian dan persatuan di tengah kemajemukan Indonesia bahkan dunia. Begitu cantiknya mereka membawakan pesan – pesan itu diiringi musik yang menyegarkan jiwa. Seperti pancaran wajah “siti nurbaya” terbuailah siapa yang melihatnya, merdu suaranya terkupakan urusan duniawi yang lelahkan sang jiwa.
Read MoreToo Sweet 2 Forget
Betapa dasyat malam ini terasa, takjub bukan buatan, inspirasi menulis blog terangsang hingga mencapai puncak. Hasrat tak mampu lagi ditahan, langsung keluarkan ide menulis seketika ini, di tribun VIP gelora 10 november, tambaksari surabaya. Kuberitakan, kepada wahai semua kawan – kawanku, aku sedang menulis di depan antusiasme SLANK dan SLANKER dalam acara festival musik LA. Para Slanker ini berdatangan dari sore hari, dari seluruh penjuru Jawa Timur, dengan satu niat tulus menyaksikan pujaannya tampil, SLANK di Stadion Gelora 10 Nopember.
Kagum luar tak terhingga rasanya, larutkan aku dalam hingar bingar para Slankers yang bersikap penuh takzim, terhadap personil Slank, setiap musik yag dibawakan oleh Grup Band yang menurutku penuh Patriotisme dan Nasionalisme ini, mereka ikuti dengan gairah tak biasa. Terus terang, sampai sore tadi, ku ini bukanlah seorang slankers, tapi malam ini begitu berbeda, aku bagian dari mereka. 
Pembaptisanku menjadi Slanker, disaksikan oleh ribuan Slanker Jawa Timur, diiringi hujan rintik – rintik , tak biasanya hawa sejuk kota pahlawan kali ini dan yang istimewa itu terjadi di Tribun VIP Gelora 10 Nopember. Seumur – umur nonton Persebaya di stadion ini, hanya mimpi duduk di tribun VIP, malam ini Slank mengabulkan impian itu. Satu lagi ada Hamim Gimbal sedang menghisap rokoknya, beliau salah satu Imam Besar Jamaah Bonek, ketika Persebaya bertanding. Lengkap sudah kebahagiaanku malam ini.
Kembali ke slankers yang sedang berjingkrak – jingkrak, bernyanyi – nyanyi, sembari kibarkan bendera Slank dan Merah Putih. Kalaupun mereka para Slankers, hafal setiap lagu yang dibawakan SLANK itu bukan hal aneh kan ? namun malam ini kutahu yang ajaibnya. Mereka bisa hafal lagunya, pada petikan gitar pertama, pada chord awal, mereka spontan melafalkan liriknya, bahkan tanpa komando Kaka, sang vokalis Slank . Iya, sekali lagi ! Mereka hafal diluar kepala, sama seperti santri pondooan ketika membaca surat yasin di acara tahlilan memperingati 7 hari orang yg meninggal, sambil mata terpejam membaca dari Yasin Wal Quranil Hakim sampai Wailahi Turjaun, lancar tanpa melihat teks karena memang memjamkan mata, apa mungkin dengan mata hatinya ? Begitupulalah dengan Slanker kira – kira
Bahkan tadi sebelum Slank, GIGI juga tampil, inilah salah satu band dengan penampilan live terbaik penuh semangat kaya kreatifitas, tapi bukan itu cerita uniknya. Ini cerita uniknya ! Ketika Gigi membawakan lagu Melayang , di tengah pertunjukkan Armand sang vokalis menuju back stage, sejenak adegan basis bersolo dimulai. Amboii… begitu mahirnya Thomas Ramdhani, basis Gigi yang sedang bersolo bas dengan teknik musisi kelas atas, jarinya menari – nari, mainkan sebuah harmoni indah. Mereka para Slankers yang sudah terbakar gairah menantikan Slank muncul, sontak bernyayi, spontan, sekali lagi tanpa komando, ” Ku tak bisa jauh, jauh darimu“, itu salah satu hits slank ! Nyanyian rindu, Sholawatan ala Slankers untuk band pujaannya.
Pantas saja Thomas Gigi, berasa nestapa melihat fenomena yg terjadi di hadapanya, Gigi Kita ditenggelam mentah – mentah oleh Slanker dalam suasana perdamain, pukulan makin tarsa telak untuk salah satu band tua indonesia. Dan aku fans Maliq d’essential, mengheningkan cipta beberapa saat. Menikmati adegan mengharukan di stadion 10 Nopember. Sambil merenungkan yang tadi dikatakan Armand Maulana, ” gue tadi di back stage terharu mendengarkan slanker tadi bernyanyi“. Fans Slank ini terbesar di Indonesia, jika Slank membentuk partai politik, maka mereka lah yang akan memenangkan pemilu satu putaran lansung tanpa politik uang, tak usah maen licik dengan serangan fajar.
Pelajaran bagi kita, wahai bangsa Indonesia, terutama sekali para pemuda. Untuk segera tertulari virus semangat Slanker Indonesia. Maka virus semangat itu menjadikan kita warga negara yang loyal terhadap NKRI, menjadi putra – putri yang berbakti kepada Ibu Pertiwi, bela nusa dan bangsa. Bukan sekedar penduduk yang bisanya cuma memenuhi kepulauan ini, tiada manfaatnya., jadi benalu untuk kesuburan negeri yang dulu dikatakan gemah ripa lohjinawi
Wahai para anak bangsa Indonesia ! Contohlah Slanker, bukan begitu harusnya ? Mereka rela berjihad demi slank, dengan lapar, haus, menempuh perjalanan jauh, nyawapun mereka tanpa pamrih anugrahkan jika perlu, Iklas tanpa tendensi, istiqomah mendampingi kemanapun Slank berada. Itu semua lahir batin demi Slank, tiada kepentingan lain. Bisa disimak dari potongan lirik Mars Slanker berikut, semoga mempercepat virus semangat mengalir dalam aliran darah kita :
Di sini orang-orang penuh kreativitas
Tempat orang-orang yang terbaik
Di sini bukan anak-anak manja
Sedikit kerja … banyak mintanya
Kembali ke Gelora 10 Nopember, laporang langsung dari tempat festival musik, Kaka sedang memetik gitar, sekarang Slank sedang membawakan lagu lama, ini lagu yang sering dinyanyikan teman – teman waktu zaman sekolah, selamat menikmati :
Kuambil gitar dan mulai kumainkan
Lagu lama yang biasa kita nyanyikan
Tapi tak sepatah kata yang bisa terucap
Hanya ingatan yang ada di kepala
Hari berganti angin tetap berhembus
Cuaca berubah daun-daun tetap tumbuh
Kata hatikupun tak pernah berubah
Berjalan dengan apa adanya
Di malam yang dingin dan gelap sepi
Moderator Acara Penggalangan Dana
Sungguh luar biasa bisa kembali melakukan postingan di blog roromendut.com, kenapa ? Karena dalam seminggu ini disibukkan dengan acara Buka Bersama, kemudian secara sukarela menjadi pantia. Lho kok tiba – tiba ditunjuk menjadi pantia ? Karena ulah saya, yang memasang foto – foto acara buka bersama, SMANBA RongEwu, Regional Surabaya melalui FB. Dari tag satu ke tag lainya, satu demi satu, teman mengomentari foto – foto kami tersebut. Hingga tak ayal memantik “keirian”, dan secara berjamaah memuncul isu, untuk melakukan isu, buka bersama tandingan untuk Regional Bangil, ada juga yang mau di Malang. ![]()
Sekali lagi, gara – gara acara buka bersama yang diselenggarakan SMANBA RongEwu, Regional Surabaya. Dimana penulis menjadi salah satu pesertanya, sekaligus secara suka rela, menampung usulan teman – teman yang tidak sempat ikut dalam acara tersebut. Jujur inilah pertama kali ikut serta acara buka bersama bersama teman SMA, dan tidak diduga berakibat menjadi moderator ( Momod ) untuk acara selanjutnya, rasanya seperti kembali muda. Rencana buka bersama selanjutnya, akan diselenggarakan di Bangil. Dan disitulah, SMA kami berada
Buka Buku Kenangan
Kembali lagi ke isu buka bersama tandingan. Kami ( Suryadi dan Saya ) membuat ide berkumpul, bukan sekedar berkumpul tentunya. Kali ini pertemuan setelah 10 tahun lulus dari SMA ini, kita balut dengan Acara Penggalangan Dana, untuk Yatim Piatu dalam buka bersama.
Setelah 9 kali diadakan buka bersama, saatnya sekarang konsepsi baru buka bersama dimulai. Di sepuluh tahun kelulusan kami, ingin kami rasanya memulai sesuai yang berbeda. Sesuatu yang bermanfaat secara sosial, secara pendidikan dan acara penggalangan dana ini adalah titik awal untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi masyarakat.
Saya bersyukur ternyata temen – temen cukup senang dengan rencana ini, parameternya dari banyaknya komen, konfimasi tanggal dan kehadiran. Oh iya, acara ini kami selenggarakan dengan cara yang demokratis, artinya untuk pemilihan tanggal dilakukan secara voting, tanggal yang dipilih paling banyak calon peserta akan menjadi tanggal pelaksaan acara. begitu juga dengan tempat acara, kami memberikan 2 pilihan tempat yang representatif tentunya
Kerena sungguh susah untuk menampung semua pendapat, maka lebih baik adanya bila mengikutkan calon peserta untuk melakukan pilihan yang sesuai.
Ok saya mohon doanya dari para Blogger agar rencana buka bersama ini berjalan sesuai rencana dan memperoleh berkah di bulan Ramadhan. Sekali lagi selain berharap Seribu Bulan, dalam acara ini juga bisa mendapatkan Terang Bulan
Indonesia “Simple comme bonjour”
Tepat pada tanggal 17 Agustus, kami ( sashimiboy, cozmix, rijalcha, roromendut ) mendapatkan banyak doa, anugrah, dan berbagai kreatifitas ucapan selamat. Herannya, kami bukannya menerima ucapan selamat atas kemerdekaan RI ke – 65, bagaimana sewajarnya di tanggal 17 Agustus, namun yang kami terima adalah ucapan selamat ulang tahun. Ya benar ! ucapan selamat ulang tahun. Luar biasa, tahun ini hari ulang tahun kami bertepatan Kemerdekaan RI.
KLIK GAMBARNYA UNTUK LIHAT LEBIH DETAIL
![]()

Perlu kami jelaskan, kami konfirmasi ulang, bahwa berita yang disebarluaskan Facebook melalui internet adalah tidak benar, sekali lagi kami ulangi, berita ulang tahun kami itu tidak benar sama sekali. Itu hanya ulah satu oknum dari nafsu kami, yang tanpa perhitungan, dengan egonya mau cari perhatian, untuk mengalihkan berita yang lebih besar, seperti kita ketahui berita yang lebih besar adalah mayoritas rakyat Indonesia belum merdeka, masih terjajah oleh kebijakan – kebijakan negara. Oh ya satu lagi, kepemimpinan PSSI yang ditolak oleh FIFA adalah masalah yang harus dicarikan solusinya, maksudnya diganti kepemimpinanya.
Maka dengan seksama, pada hari itu, 17 Agustus 2010, setelah pukul 10 pagi. Kami atas nama rijal cha, sebagai kakak tertua dari saudara kami tersebut, secara resmi memproklamirkan permintaan maaf kepada seluruh teman, yang merasa dibohongi oleh salah satu oknum nafsu kami. Permintaan maaf tersebut langsung kami sampaikan melalui social media Facebook, Kaskus, dan tentunya di acara buka bersama alumni Laskar Naruto Utama, di Foofcourt TP lantai 7.
PERMINTAAN MAAF MELALUI FACEBOOK
Kami sadari, bahwa tidak setiap kebohongan yang menurut kami baik, juga baik pagi teman dan sahabat kami.Tentunya dengan sangat menyesal, sangat merasa berdosa, karena pada hari, sebuah fakta terjadi, teman – teman dibuat lupa akan hari kemerdekaan. Mereka sibuk sekali untuk minta makan – makan atau traktiran buka bersama untuk merayakan hari jadi kami. Dan lebih berdosa lagi, karena kami tidak bisa memenuhi semua itu, seperti yang sudah berkali kali kami konfirmasikan, bahwa sebenarnya itu bukan hari ulang tahun kami. Itu hanya akal – akalan, akibat mengotak atik profile di FB. Maka sudilah pada hari itu kami makan bersama memang, dengan hasil jerih payah sendiri, maksudnya BDD ( Bayar Dewe Dewe )
ALUMNI NAROTAMA ( NARUTO UTAMA )

Apapun yang terjadi di tanggal 17 Agustus kemarin, kami berterima kasih dengan doa – doa, dukungan dan anugrah yang teman – teman berikan, baik melalui Facebook, kaskus, atau sms. Pada hari itu alhasil, doa dari sebagian besar teman terjawab, seiring update status Tuhan hari itu “Berdoalah, maka akan kukabulkan”. Hari itu terkabul sebuah hajat hasil munajat, hari yang membahagiakan bagi Indonesia dan anak bangsanya. Ingin tahu gambaran kebahagian kami di hari itu ? Oleh karena doa teman – teman di hari “ulang tahun” kami ?
Berkat doa yang iklas dan tulus dari teman – teman, hari itu pula kami bertemu dengan wanita Indonesia asli, masih muda, cantik, bergaun setelan merah putih, sangat nasionalis tentunya. Amboy rasanya, begitu melihat wanita yang aduhai, berbungkus gaun merah putih, terksimalah kami, teringat kata Ibnu Arabi. Wanita itu tidak sekedar wanita, dipuncak ekstase akan cinta, wanita adalah bayang – bayang Tuhan. Dan bayang – bayang Tuhan itu masih hinggap di alam hayal, menantang dunia nyata yang terkurung logika !
PENGHORMATAN KEPADA IBU PERTIWI
Kenapa bayang – bayang Tuhan itu tadi terlihat istimewa ? Sedikitlah boleh kami ceritakan keelokan Indonesia tercinta ini. Di negeri yang masih ijo royo – royo ini, mudahlah kita temui wanita muda, cantik, bagai kembang yang menghiasi gunung, lembah, dan semesta. Menggoda lebah – lebah Eropa, untuk menghirup wanginya, menghisap manisnya, dan sengaja melakukan proses penyerbukan perkawinan silang
Dan salah satu gambaranya langsung kami temui, di hari itu sepertinya dia tiada tergoda oleh pesona Eropa atau Amerika, dia masih milik Indonesia. Dia, dengan estetika keindahan, keelokan seorang putri keraton, pemilik nilai seni tinggi, senilai keunikan batik Solo hasil kreasi batin, yang penuh tirakat menuju cinta.
PUSAKA INDONESIA
Tidak berbohong bahwa hari itu kembali berumur 17 tahun. Sambil berseru hai Iblis, kami menyetujui apa yang kau pernah katakan. Harta dan tahta tiada cukup untuk menggoda manusia, kemudian Tuhan menawarkan wanita dan kau bersorak gembira, itukan senjata pamungkasmu ? Dan kami rasa sejauh ini kau berada dalam jalur yang tepat untuk menyelesaikan misimu dalam permainan dunia ini.
Kami yakin diantara para lelaki yang menglilingnya keelokan Sang Putri Indonesia, tidak peduli dia seorang pengagum Arabi atau Azazil. Sudah bersiap, menyiapkan panah cintanya, bagai Arjuna dan Karna yang sedang mengikuti sayembara untuk mendapatkan Drupadi. Disaat yang sama di lapangan terbuka, perayaan Dirgahayu RI, sudah jamak diadakan lomba panjat pinang. Maka disaat yang sama pula, turut berlomba pula kami, memanjatkan doa kehadirat yang Kuasa, untuk meminang wanita bergaun merah putih. Betul sekali, bukankah di bulan puasa ini, saat berdoa yang tepat ? Doa lebih muda dikabulkan kata pak Ustad, “Simple comme bonjour” itu kata orang Perancis
Read MorePERAYAAN KEMERDEKAAN, KELUARGANYA MBAK FITA DI PRANCIS
Kapitalisme Bangsa Sendiri ( II )
Dalam karangan saya yang lalu, yang lampau saya katakan, bahwa kita harus anti segala Kapitalisme, walaupun kapitalisme bangsa sendiri. Tetapi disitu saja janjikan pula untuk menerangkan, bahwa kita didalam perjuangan, kita mengejar Indonesia – Merdeka itu tidak pertama – tama mengutamakan perjuangan kelas. Tetapi harus mengutamakan perjuangan nasional. Memang kita – begitulah saya tuliskan adalah kaum nasionalis, kaum kebangsaan, dan bukan kaum apa – apa yang lain.
Apa sebabnya, kita harus mengutamakan penjuangan nasional di dalam usaha kita mengejar Indonesia Merdeka ? Kita mengutamakan perjuangan nasional, oleh karena keinsyafan dan perasaan nasional, adalah keinsyafan dan perasaan yang terkemuka didalam sesuatu masyarakat kolonial.

Di dalam suatu masyarakat selamanya adalah antithese, yakni perlawanan. Inilah menurut dialektiknya semua keadaan, tetapi di Eropa di Amerika, antithese ini sifatnya adalah berlainan dengan antitehese yang ada disesuatu negeri kolonial. Pada hakikatnya, antithese dimana – mana adalah sama : perlawanan antara yang “diatas” dan yang “dibawah”, antara yang “menang” dan yang “kalah”, antara yang menindas dan yang tertindas. Tetapi di Eropa, di Amerika di negeri negeri lain yang merdeka, dua golongan yang ber antithese itu, adalah dari satu bangsa, satu kulit putih, satu ras. Kaum buruh negeri merdeka, umumnya adalah dari satu darah, satu natie. Karena itulah maka disuatu negara yang merdeka antithese tadi tidak mengandung rasa atau keinsyafan nasional, tetapi adalah bersifat zuivere klassenstrijd – perjuangan kelas yang melalui perjuangan kelas yang melalui perjuangan kelas
Tetapi di dalam negeri penjajahan di dalam negeri yang dibawah imperialisme bangsa asing, maka yang menang dan yang kalah, yang diatas dan yang dibawah, yang menjalankan kapitalisme dan yang dijalani kapitalisme adalah berlainan darah, berlainan kulit, berlainan natie, berlainan kebangsaan. Antithese di dalam negeri jajahan adalah, oleh karenanya, terutama sekali bersifat antithese nasional.
Itulah sebabnya, maka perjuangan kita untuk mengejar Indonesia merdeka, jikalau kita ingin lekas mendapatkan hasil – haruslah pertama – tama mengutamakan perjuangan nasional. Kita anti segala kapitalisme, kita anti kapitalisme bangsa sendiri, tetapi kita untuk mencapai Indonesia merdeka, yakni untuk mengalahkan imperialisme bangsa asing, harus mengutamakan perjuangan kebangsaan.
Mengutamakan perjuangan kebangsaan itu, tidak berarti bahwa kita harus melawan ketamaan atau kapitalisme bangsa sendiri Sebaliknya ! Kita harus mendidik rakyat juga benci kepada kapitalisme bangsa sendiiri, dan dimana ada kapitalisme bangsa sendiri, kita harus melawan kapitalisme bangsa sendiri itu juga. Tetapi mengutamakan perjuangan nasional, itu adalah berarti, itu berarti pusarnya, titik beratnya, aksen kita punya perjuangan haruslah terletak didalam perjuangan nasional. Pusarnya kita punya perjuangan sekarang haruslah didalam dengan segala tenaga kebangsaan, yang hidup di dalam suatu bangsa yang tak merdeka dan yang ingin merdeka.
Pusarnya kita punya perjuangan sekarang haruslah didalam dynamisering, yakni membangkitkan menjadi aksi dan perbuatan, daripada rasa kebangsaan alias nasional berwustzijn, nasional berwustzijn yang hidup di dalam hati sanubari tiap – tiap rakyat sadar yang tak merdeka.

Jadi siapa yang mengira bahwa kita punya nasionalisme adalah nasionalisme yang suka main mata dengan burjuisme, ia adalah salah sama sekali . Kita hanyalah menjatuhkan pusar, titik berat, aksenya kita punya perjuangan di dalam perjuangan nasional. Burujuisme haruslah kita tolak, kapitalisme harus kita lawan – oleh karena itulah maka kita punya nasionalisme Marhanaenistis. Sebab, hanya kaum marhaen sendirilah yang menurut dialektik, satu – satunya golongan yang sungguh- sungguh ber antithese dengan burjuisme dan kapitalisme itu, dan yang dus bisa sungguh – sungguh menentang dan mengalahkan burjuisme dan kapitalisme itu.
Marhane sendirilah yang menurut riwayat bisa menjalankan “pekerjaan riwayat” alias “historische taak” menghilangkan segala burdjuisme dan kapitalisme dinegeri kita adanya. Memang ! Marhaen nasionalismelah yang pula yang cocok dengan keadaan nyata yang didatangkan oleh imperialisme di Indonesia sini. Imperialisme Belanda, sedikit berlainan dengan imperialisme Inggris atau imperialisme Amerika, adalah lebih memarhaenkan masyarakat Bumiputera daripada imperialisme – imperialisme yang lain.
Imperialisme Belanda itu, sejak mulanya datang di Indonesia sini adalah berazas dan bersifat monopolistis, merebut tiap – tiap akar perusahaan, pertukangan dan perdagangan atau pelajaran yang ada di Indonesia sini. Imperialisme belanda itu adalah imperialisme yang lebih kolot daripada imperialisme – imperialisme yang yang lain, lebih kuno, lebih orthodox daripada imperialisme yang lain. Tidak ada sedikitpun warna modern – liberalisme padanya, sebagaimana tampak pada imperialisme yang lain. Politiknya adalah menggagahi semua alat perekenonomian di Indonesia sini, menggagahi segala economic leven ( kehidupan ekonomi ) di Indonesia sini
Kini masyarakat Indonesia adalah kecil , masyarakat yang hampir segalanya kecil. Kini masyarakat Indonesia buat sebagaian yang besar sekali hanyalah mengenal pertanian kecil, pelajaran kecil, perdagangan kecil, perusahaan kecil. Kini masyarakat Indonesia adalah 90 % masyarakat kecil, masyarakat kekecilan itu, masyarakat marhaen yang hampir tiada kehidupan ekonominya sama sekali. Oleh karean itulah, maka marhaenis nasionalisme adalah satu – satunya nasionalisme yang cocok dengan sifatnya masyarakat Indonesia itu, coock dengan keadaan nyata , cocok dengan hanya marhaenistis nasionalismenya saja yang bisa menjalanka historiche taak mendatangkan Indonesia merdeka dengan secepat – cepatnya, historiche yang sesuai juga dengan historiche taaknya menghilangkan segala burjuisme dan kapitalisme adanya.

Jawaharlal Nehru, di dalam pidato di muka National Congress yang ke – 44 sebagai yang telah kita kutip tempo hari, mengakui dengan terus terang seorang sosialis, yang anti segala kapitalisme. Tetapi Jawaharlah Nehru itu pula adalah seorang nasionalis, the second uncrowned king, of india. Raja kedua dari India tanpa mahkota, yang membangun segala tenaga rakyat India ke dalam suatu perjuangan nasional. Yang mati matian. Nasionalisme Jawaharal Nehru, adalah nasionalime India yang marhaen, suatu social nasionalime yg menghilangkan semua kapitalisme, menyelamatkan seluruh rakyat India. Nasionalisme yang demikian nasionalisme kita pula.
Fikiran rakyat, 1932
Read MoreTa, Kof, Wau
Dulur – dulur, piye kabare, aku nang kene apik – apik ae, alhamdulilah iso ngelakoni poso pisan. Durung bolong blas pek, lha yopo ancen se oleh rong dino, niru pariane Cak Kartolo 
Maeng melo teraweh pek nang masjid, terus terang ae aku jarang melu teraweh, yo selain males komes, rokaate kakean pisan, kemeng dengkulku.
Ojo maneng sing likuran rakaat, wong sing 8 rakaat ae aku aras – arasen kok. Mboh opo’o wingi iku dadi gak aras – arasen, gak ono udan gak ono bledek, moro – moro wingi iku kepingin sembayang teraweh, nang masjid Kutisari. Biasane masjid iki gawe numpang adus le wes sore, timbang awak gatel kabeh, polae gak adus 3 dino.
Ngene pek ceritane, gawe sing wes pengalaman melo teraweh puluhan tahun, mesti wes paham le sadurung e teraweh biasane ono ceramah, yo iki alasan paling garai aku males melo teraweh. Gak kesuwen mari isya’an, langsung ngadek golek panggon sing paling mburi, ambe dungo mugo – mugo ketemu cewek ayu
iki niat terselubung melu teraweh sing paling spesial. Lunggo mburi, nyenden cagak betone masjid, ambe akting merem sok khusuk dungo, setengah ngelirik nang barisan mukena putih, sopo ngerti ono sing nduwe lesung pipi.
Sliat – sliut, bumi gonjang – ganjing, ono suoro ke gowo angin melbu nang kupingku, krunguku jare sing khotbah, poso iku tujuane gawe ningkatno Takwa, le iki sich wes mbelenger aku ngerungokno, mulai SD, SMP, SMA, sampe ganti – ganti gendaan yo pancet ngunu ae sing diceritakno
Yo po kate ditingkatno wong bentuk e takwa ae gak ngerti, ojo maneng takwa, rupane iman durung ngerti kate takwa ya po ? Jare Badrun konco CS, keliru kabeh tambahan.
Ngomong ngalur ngidul masalah Iman Takwa, Bapak ustad pengkhotbah sing titel e Drs iku, moro – moro nyebut jenenge, Imam Nawawi. Wah kaget koyo ketiban langit, langsung moto melek, koyo e jeneng iki sering kerungu aku, le gak salah sing ngarang kitab Sulam Safina.
Gak penting lah iku menurutku, gak perlu dibahas, kuatir le mbahas ngunu akeh salahe, sing penting mbahas Takwa ae. Yaiku, tentang TAKWA, Takwa iku le dipreteli huruf e siji – siji, iku ono huruf, TA, KOF, WAU. Iki dibahas siji – siji rek.
TA, artine wong iku kudu Tawadhu, sing karepe kudu ngerteni. Ngerteni nang sopo ? yo ngerteni nang awake dewe, iso rumongso nang karepe awake, mahami ambe ngontrol karepe nafsune. Ono nafsu amarah, lawammah, sufiyah mutmainah. Kabeh nafsu karepe dewe – dewe podo gak gelem ngalahe, yo semestine dulur tuwo kudu ngerteni dulur sing enom.
Dadine le iso ngereni dulur dewe iki, Insyallah iso pisan ngerteni wong liyo, gak gampang – gampang ngelarani atine wong, gak gelem nggarai gelone wong tuwo. Dadi le awake peno, mari poso terus sech gelem ngerasani wong liyo, Nggudo rondo sing melaku nang embong, opo maneng gonceng bojone konco nang kenjeran. Iku tanda – tanda, tanda – tanda le durung iso rumongso masio wes poso ![]()
I really miss you tonight
![]()
KOF, artine Qona’ah, nriman, jarene wong Jowo nrima ing pandum. Artine prei ngersulo, gak sambatan, ono e cuma nyukuri nikmate urip, urip cuman mampir ngombe, kadang nyemil, suwe – suwe tangane nyanyil, yo iku sing nggarahi lali moleh. Wong nriman iku iklas pek, loro untu mesem, loro ati ngguya ngguyu koyo mari oleh arisan, kilangan duwek malah ngutangi tonggone
Jarene kan poso iku khusus gawe wong sing beriman, nah le samean ngaku beriman, tibae mari poso, mari ngunu isik morang moreng polane ditinggal rabi gendaane sing semok smeledot, nangis gero – gero polane gak lulus ujian sekolah, jambak – jambak rambut polae gak iso tuku blackberry, opo maneng gak nyopo konco polane konco lali mbayar utang. Kiro – kiro le se model ngunu perlu melo poso tahun ngarep, ambe dungo mogo – mogo isik diparingi Gusti Allah ambean dowo.
WAU, Wara’. Nah iki aku lali rek bahasane, tapi sa’ilingku, Wara’ iku podo karo Wira’i artine isin. Bahasa Indonesiane, “malu itu sebagian daripada iman. Isin opo ? Isin kate budal kerjo telat, isin kate marung gak mbayar, isin kate nonton videone Cut Tari ambe Aril, isin durung tau nonto ngunu ta ? wkkwkwk…..
Sing jelas isin ambe awake dewe rek, le isin ambek awake dewe podo karo isin ambe Gusti Allah, mogo – mogo iki bener ……, lha yo po saiki misale wong gendaan luruan nang peteng – peteng, misal nang watu – watu kenjeran utowo bekas tol gempol. Kan iku petenge gak karuan, setan ae wedi kate cangkruk nang kunu. Hayooo….kate isin ambe sopo terus ? wong gak ono sopo – sopo moso kate gak lapo – lapo, impossible, ora mungkin? moso kate isin ambe gendaane dewe, wong wes podo nyepak kabeh, ngerasakno jok sepeda sing wes anget
, maleh isin ngene iki cerito koyo ngene, ketoro le wes pengalaman ![]()
Kurang lebihe ngunu rek isine khotbah wingi, mugo – mugo ono manfaate nang bulan penuh berkah iki.
Di Bawah Bendera Revolusi
Para sahabat, teman teman dekat dan semua saudara sesama bangsa Indonesia. Di bulan ini, bulan dimana bangsa indonesia, 65 tahun yang lalu menghentak dunia, bulan dimana cita 2 bangsa selama ratusan tahun tercapai, perjuangan yang mencapai puncaknya dari zaman Pangeran Diponegoro sampai Soekarno. Bulan itu dimana semua musuh berhasil kita usir dari tanah air tercinta, Indonesia. Bulan yang sama ketika seluruh umat islam Indonesia menjalankah ibadah puasa ramadhan dan menjadi saksi pengibaran Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya, sebagai simbol kemerdekaan.
Dan sekarang, puluhan tahun setelah itu, puluhan tahun setelah musuh2 kita usir dari ibu pertiwi, puluhan tahun setelah paduka yang mulia, Soekarno memproklamirkan kemerdekaan, sebagai jembatan emas untuk Indonesia membangun jiwa dan raga. Apa yg telah dirasakan bangsa indonesia ? Kemakmuran ? Kebahagian ? Kesejahteraan ? Jawablah wah hai engkau anak 2 ibu pertiwi ? Lihatlah apa yang telah dihasilkan dari kemerdekaan yang kita agung – agungkan, dengan jiwa yang berglora. Maka keluarlah sekarang dari khayal mu dan bacalah dgn seksama.
Kita lihat dijalan-2 kota surabaya dimana tulisan ini dimulai, di malam hari para gelandangan tidur beralaskan tikar, berselimutkan sarung. anak – anak usia sekolah, dibawah lampu lalu lintas, mengamen memegang gitar kecil, berdagang koran, mengemis diantara deretan mobil mewah.Para ibu kesulitan memberi anaknya susu diantara lautan susu yang dimonopoli para penguasa, para bapak kesulitan menyuapi anaknya dengan nasi diantara lumbung padi yang dikuasai negara, negara yang dulu memerangi penjajah setelah merdeka menjelma menjadi V.O.C, alat hisap Belanda untuk menyedot kekayaan alam Indonesia. Apakah ini hasil kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan ?
Jikalau kenyataannya masih begitu ? merdekakah bangsa ini ? belum, belum, kita masih jauh dari tanda2 merdeka saudraku. Lalu siapa yang kemudian bertanggung jawab ? apakah pemerintah ? Seperti diketahui kita tidak bisa lagi berharap dan mungkin menghapus semua harapan itu, pada pemerintahan saat ada ini. Sadarlah dengan sesadar – sadarnya kitalah, kita semua mempunyai tanggungan dan wajib mendapatkan jawaban atas semua persoalan, yang sedang dihadapi Indonesia tercinta, tanpa terkecuali.
Maka melihat kondisi bangsa yang makin tidak jelas visi dan misinya. Dengan semangat berapi – api berkobar untuk mengembalikan, cita – cita para pendiri bangsa. Sejak saat ini, detik ini, di blog tercinta ini, akan di dihadirkan pemikiran – pemikiran Bung Karno, Putra Sang Fajar. Seorang putra bangsa yang cahayanya menerangi Indonesia dari dulu hingga saat ini. Cahaya pemikiran beliau sebelum, dan sesudah kemerdekaan, tertulis rapi penuh inspirasi, dalam bukunya di bawah bendera revolusi. Selamat menikmati
Read MoreKapitalisme Bangsa Sendiri ( I )
Didalam salah satu rapat umum, saya pernah berkata, bahwa kita bukan saja harus menentang kapitalisme asing, tetapi harus juga menentang kapitalisme bangsa sendiri. Hal ini telah mendapatkan pembicaraan di dalam pers, dan sayapun mendapat beberapa surat yang minta hal ini diterangkan sekali lagi dengan singkat.
Dengan segala senang hati saya memenuhi permintaan – pemintaan itu. Sebab, soal ini adalah soal yang mengenai beginsel. Beginsel, yang harus dan musti kita perhatikan, jikalau kita mengabdi kepada rakyat dengan sebenar – benarya, dan ingin membawa rakyat itu kearah kesalamatan.
Supaya buat pembaca soal ini menjadi terang, dan supaya pembicaraan kita bisa tajam garis – garisnya, maka perlulah kita dahulu kita menjawab pertanyaan : Apakah kapitalisme itu ?
Didalam saya punya buku – pembelaan, saya pernah menjawab :
“kapitalime adalah stelsel pergaulan – hidup, yang timbul daripada cara produksi yang memisahkan kaum – buruh dari alat – alat produksi. Kapitalisme adalah timbul dari ini cara produksi, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya meerwaarde tidak jatuh dalam tangannya kaum buruh melainkan jatuh di dalam tangannya kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, adalah menyebabkan kapitallaccumulatie, concentratie, kapitaalcentralisatie, dan industrieel reserve – armee. Kapitalisme mempunya arah kepada verelendung”, yakni menyebarkan kesengsaraan.
Itulah kapitalisme ! yang prakteknya kita bisa lihat diseluruh dunia. Itulah kapitalisme, yang ternyata menyebarkan kesengsaraan, kepapaan, pengangguran, balapan tarif, peperangan, kematian, pendek kata menyebabkan rusaknya susunan dunia yang sekarang. Itula kapitalisme yang melahirkan modern – imperialisme, yang membikin kita dan hampir seluruh bangsa berwarna menjadi rakyat yang cilaka !
Siapa didalam beginsel tidak anti kepada stelesel yang demikian itu, adalah menutupkan mata buat kejahatan – kejahatan kapitalisme yang sudah senyata – nyatanya itu. Tiap – tiap orang, yang mempunya beginsel yang logis, haruslah anti kepada stelsel itu. Sebab, sekali lagi saya katakana, stelsel itu teryata dan terbukti stelsel yang mencilakakan dunia.
Ya, orang menyahut, : tetapi kapitalisme bangsa sendiri ? Kapitalisme bangsa sendiri yang bisa kita pakai untuk memerangi imperialisme ? Apakah kita harus juga anti kapitalsme bangsa sendiri itu, dan menjalankan perjuangan kelas alias klassenstrejd ?
Dengan tertentu disini saja menjawab : Ya, kita harus juga anti kepada kapitalisme bangsa sendiri itu ! Kita harus juga anti isme yang menyengsarakan Marhaen itu. Siapa mengetahui keadaaan kaum buruh diindustri batik, rokok kretek, dan lain – lain dari bangsa sendiri, dimana saya sering melihat upah buruh yang kadang – kadang hanya 10 – 12 sen sehari, siapa mengetahui keadaan perburuan yang sangat buruk di industri bangsa sendiri itu. Ia juga mesti penggoyangkan kepala, dan dapat rasa kesedihan melihat buahnya cara produksi yang tak adil itu. Pergilah ke Mataram, pergilah ke Lawean Solo, pergilah ke Kudus, pergilah ke Tulung Agung, pergilah ke Blitar, dan orang akan menyaksikan sendiri “rahmat – rahmatnya” cara produksi itu.
Seorang nasionalis, justru karean ia orang nasionalis, haruslah berani membukakan mata dimuka keadaan – keadaan yang nyata itu. Ia haruslah mengabdi kepada kemanusiaan. Ia harus memperhatikan perkataan – perkataan Gandhi yang saya sajikan tempo hari : Nasionalismeku adalah kemanusiaan. Ia haruslah Sosio – Nasionalis, yaitu seorang nasionalis yang mau memperbaiki masyarakat dan yang DUS anti segala stelsel, yang mendatangkan kesengsaraan kedalam masyarakat itu. Dia harus sebagai Jawaharlal Nehru yang berkata :
“ Saya seorang Nasionalis. Tapi juga seorang sosialis dan republikein. Saya tidak percaya kepada raja – raja dan ratu – ratu, tidak pula kepada susunan masyarakat yang melahirkan raha – raja industri yang pada hakekatnya berkuasa lebih besar lagi daripada raja – raja dizaman sediakala. Saya niscaya mengerti, bahwa kongres belum bisa mengadakan program sosialistis yang selengkap – lengkapnya. Tetapi susunan masyarakat diseluruh dunia. India niscaya akan menjalankan cara – cara sendiri dan mencocokan cita – cita sosialis itu kepada keadaan penduduk India umumnya”
Tetapi, apakah ini kita harus memusuhi orang – orang Indonesia yang mampu ? sama sekali tidak. Sebab pertama – tama kita tidak memerangi orang, kita memerangi stelsel. Dan tidak tiap – tiap orang yang mampu menjalankan kapitalisme. Tidak tiap – tiap orang yang mampu adalah mampu karena meng – eksploitasi orang lain. Tidak tiap orang yang mampu menjalankan cara produksi, sebagai yang saya terangkan dengan singkat ( dengan menjitat dari pembelaan ) diatas tadi. Dan tidak tiap – tiap orang mampu adalah ikut atau hidup didalam ideologi kapitalisme. Pendek, tidak tiap orang mampu adalah Jendral atau Sersan atau Serdadu kapitalisme !
Dan apakah prinsip kita itu berarti, bahwa kita ini harus mementingkan perjuangan kelas ? Juga sama sekali tidak. Kita nasionalis memperjuangkan perjuangan nasionalis, perjuangan kebangsaan. Hal ini saya terangkan dalam karangan saja yang akan datang. Just the right place to find a schadenfreude
- Dibawah bendera revolusi II -







































