DHAENG SEKARA ( Telik Sandi Tanah Pelik Majapahit )
Dhaeng Sekara yang terlahir dengan nama Mahesa Sekar seorang anak muda usia 19 tahun. Seorang Ksatria sejati yang diutus Bhre Tumapel, Dyah Kertawijaya, untuk memata – matai sejumlah wilayah yang tengah dilanda konflik dan membahayakan keberadaaan Kerajaan Majapahit setelah kepergian Rakryan Patih Mangkubhumi Pu Gajah Mada.
Hidup di zaman Majapahit dengan rajanya Sri Baginda Maharaja Wikramawardhhana. Dhaeng Sekara, seorang sebatang kara yang diasuh oleh Kakek Bantal Guru Spiritualnya, salah seorang pahlawan Perang Salib, yang sudah dianggap orang tuanya sendiri. Seluruh keluarganya, kecuali Ayahnya, dibinasakan oleh kumpulan perompak. Akibat peristiwa itu, dia selalu dihantui rasa penasaran akan kematian keluarganya dan pencarian akan keberadaan ayahnya yang menghilang setelah peristiwa itu.
Pencarian akan keberadaan ayahnya perlahan – lahan mulai terungkap, ketika dia ditugaskan oleh Dyah Kertawijaya ke daerah Gowa, yang juga dibawah kerajaan Majapahit. Dalam menjalankan tugas dari Dyah Kertawijaya. Dalam menjalankan tugasnya, Dhaeng Sekara terkena racun mematikan, yg dikenal dengan racun “seribu mayat” oleh seorang wanita yang menguasai ilmu hitam tingkat tinggi. Untuk menyembuhkan racun yang sudah menjalar ke suluruh tubuhnya maka dinikahkan lah Dhaeng Sekara dengan gadis setempat.
Menariknya pernikahan itu dilakukan dalam keadaan Dhaeng Sekara tidak sadar,akibat pengaruh racun ganas. Dia baru menyadari telah menikah ketika istrinya yang menyuapinya bubur mengatakan bahwa mereka telah menikah. Dengan melakukan perkawinan itulah, salah satu jalan untuk mengeluarkan racun yang sudah menjalar ke seluruh tubuh. Begitulah penjelasan tabib setempat yang mengobati Dhaeng Sekara.
Berat dan padatnya tugas yang diemban Dhaeng Sekar mengakibatkan dia tidak bisa menemani istrinya yang baru dinikahinya. Seketika kesehatanya mulai pulih, Dhaeng Sekar meninggalkan istrinya dengan meninggalkan Badik, peninggalan ayahnya sebagai pusaka. Dari badik itulah ternyata misteri keberadaan Ayahnya dan pembunuh keluarganya mulai terungkap.
Ternyata istri Dhaeng Sekar, I Da Sarebba berayahkan I La Pitureppa, bekas anak buah Ayahnya, tentu saja mengenali pemilik badik tersebut. Ternyata ayah Dhaeng Sekar adalah pimpinan Bala – awajuh Wilwatikta, Kerajaan Majapahit, dengan nama Panji Sekara. Setelah mengetahui latar belakang ayahnya sesuai dengan nasehat kakek Bantal, Dhaeng Sekara menghadap Sri Baginda Majapahit, Sri Prabu Wikramawarddhana untuk mendapatkan penjelasan perihal keberadaan ayahandanya.
Dalam tradisi Majapahit ada tradisi yang dinamakan pepe, dalam rangka menghadap raja untuk menyampaikan protes, kritik, maupun keluh kesah. Menghadaplah telik sandi Tanah Pelik Majapahit itu, dengan menyerahkan taji kecil peninggalan ayahnya. Sri Prabu Wikramawarddhana meraih taji kecil yang dihaturkan Dhaeng Sekara. Ternyata diluar dugaan beliu mengenali pemiliknya, yaitu Sang Gendhigmanggala Rakryan Panji Sekara. Taji kecil itu adalah hadiah yang beliau berikan pada hari pernikahan ayah dan ibu Dhaeng Sekara.
Sri Prabu Wikramawarddhana bertanya kepada Dhaeng Sekara, apa masih ingat sama sekali dengan peristiwa pembinasaan keluarganya oleh perompak tersebut. Dhaeng sekara hanya ingat ciri – ciri pimpinan perompak. Pada lengan kirinya terdapat gambar rajah kepala harimau, selain itu dia menyelipkan gading dengan ukiran kepala harimau. Dan yang paling diingatnya dan tidak bisa dilupakan adalah perut bagian kiri terdapat tahi lalat besar, yang ditumbuhi rambut.
Dengan izin Sri Baginda Maharaja akhirnya Dhaeng Sekara dapat menemui ayahnya dan menceritakan ciri – ciri perompak yang telah membinasakan keluarganya. Ternyata ayahnya mengenali ciri – ciri tersebut. Tak lain dan tak bukan, pemilik ciri – ciri tersebut ternyata, sahabatnya yang paling dipercaya.
Penulis : Agus Sunyoto
Penerbit : Diva Press
Halaman : 487
Terbit Oktober 2010


